Thursday, December 4, 2014

Antara Cinta Dan Sahabat

Ketika berbicara tentang "Cinta", pasti saja hati menjadi berbunga-bunga. Seolah-olah sedang berdiri di tengah ladang yang penuh dengan mawar yang mekar dan harumnya tentu saja bisa menusuk ke sanubari. Saat itu bibir pasti mulai mengukir senyum dan wajah yang muram pantas saja bertukar menjadi bahagia.

Cinta itu begitu unik sekali. 
Cinta bisa mengubah malam yang gulita diterangi cahaya.  
Cinta tidak bisa dijemput dan tidak pula bisa dihalau.
Cinta hadir tanpa kita tahu saat dan ketikanya. 
Cinta berputik dan hanya kita sedari saat umbinya 
mulai menyelinap keseluruh ruang fikir.
Cinta bisa menjadi madu dan bisa pula menjadi racun serta bisa juga menjadi penawar.
Cinta sebenarnya terlalu payah untuk diungkapkan dengan tutur bicara...
kerana kilauan mata lebih pantas bercerita tentang cinta.
Saat cinta mendampingi, tiada lagi yang lain yang lebih diperlukan.
Saat cinta itu pergi, dilarikan bersama jiwa yang ada.
Saat cinta itu hilang, terasa seluruh jasad jua melayang.
Saat cinta itu pulang, derita seabad terhapus sesaat.


Menjejaki hari yang datang dan pergi tidaklah mudah untuk terus melangkah. Perjalanan yang panjang dan tidak bisa diramal, tentu saja menjanjikan dugaan demi dugaan. 
Masakan bisa kaki ini melangkah sendirian kerana sepi itu terlalu menyakitkan. 

Namun keriuhan teman-teman yang seiringan masih belum bisa mendamaikan hati yang sendirian. Barangkali kerana terlalu banyak pertembungan dan pertelagahan pendapat. Manusia memang begitu. Lebih suka bertelagah dari berdamai. Sedang hati ini terlalu mulus untuk dibiarkan terjebak dengan kekasaran manusia yang begitu.  Aku capek untuk bertikam lidah. Aku lelah untuk mengia atau menafikan bicara dan telagah.

Apa ertinya teman jika tidak bisa bertaraf sahabat?
Namun masih wujudkah SAHABAT di tengah-tengah kerakusan penghuni dunia?

Aku tidak pernah mandambakannya kerana aku yakin ia bukan milikku. Mungkin kerana setiap teman yang datang dan pergi dalam dalam cerita hidupku, bagai sesapa bayu di pipi. Lantas aku tidak pernah bermimpi untuk itu.

Ketika segalanya begitu hambar, Yang Maha Pemurah telah menukar coretan diari hidupku dengan warna warni dari kehadiran seorang teman. 

Sifatnya bersahaja menerima kurang lebih diriku.
Andai lebih pada dirinya, pasti dikongsi bersama.
Andai kurang pada diriku pasti saja dipenuhi olehnya.
Susah aku, bersusah-susah jualah dia.
Sedih aku, dihulurkan bahunya menjadi tadahan air mataku.

Tuturnya rapi penuh erti, mengajar aku mencari dan berfikir dengan hati.
Walau penuh luka dan kepayahan, di bibirnya masih mekar senyuman mengharum.
Tiada pernah mengalah pada getir langkah yang payah. 
Pada kasarnya, ada santun yang tertib.
Pada tegasnya, ada kasih yang merimbun.
Jiwanya besar dan membesarkan setiap impianku yang kerdil.
Hatinya tabah dan ketabahannya menjadi tulang belakang setiap langkahku sendeng.
 
Terlalu banyak yang aku peroleh dari dia dan diari hidupnya.
Terlalu banyak yang aku pelajari dari pantas akalnya berfikir.
Terlalu banyak yang aku kenali dari mulus lakunya yang tidak pernah diungkit.
Terlalu banyak yang aku insafi dari tangan yang tidak pernah lokek memberi.  
Terlalu banyak yang ingin ku coretkan tentang dia sehingga tiada kata yang terungkap 
yang mampu menggambarkan syukurku pada Ilahi miliki dia bernama sahabat.

Dia mengajar aku...tentang satu
Antara cinta dan sahabat...tiada yang membeza.
Cinta itu damai, sahabat itu mendamaikan.
Cinta itu indah, sahabat itu mengindahkan.
Cinta itu bahagia, sahabat itu membahagiakan.
Cinta bisa putus dan terlerai...namun cintakan persahabatan pasti tiada noktahnya.
Kerana ia terjalin pada ikatan nadi yang sentiasa berdenyut.
Kerana jalinan kasih tersimpul, tanpa perlu sumpah dan janji menjadi maharnya.

Mengenalinya, ku kenali diriku.
Mengenalinya, ku fahami mahuku.
Mengenalinya, ku sedari citaku.
Mengenalinya, ku kenali erti rindu.

Mengenalinya, ku kenali Cinta Allah.
Mengenalinya, menjadikan doaku penuh syahdu...

...terima kasih sahabatku atas segala pengorbananmu... 
Moga cinta Allah sentiasa penuh di hatimu...aameen.

No comments:

Post a Comment